“Hah Positif ?!”
Teriakku girang, sambil melihat tanda garis dua di test pack yang kupegang sejak dua menit lalu sambil menunggu harap-harap cemas. Kejadian inilah yang kutunggu-tunggu setelah 1 tahun usia pernikahan kami.
Pantesan saja mengapa dua minggu ini kepalaku terasa hebat sekali pusingnya. Ditambah lagi perut rasanya bagai diaduk-aduk kencang sehingga membuatku selalu menghindari berbagai makanan. Suatu ketika aku ingin sekali makan makanan favorit seperti Cap Cay sambil membayangkan hmm…. Nikmatnya!
Setelah makanan itu datang bukannya langsung disantap, tiba-tiba mulutku terasa pahit dan kepala kembali pusing, dengan segera aku berlari sejauh mungkin dari makanan di hadapanku. Tinggal suamiku yang bengong sambil geleng-geleng kepala.
Pagi hari, dikala seisi rumah penuh dengan aroma masakan dapur, aku menutup rapat-rapat pintu kamar sambil menutupi hidup dengan minyak kayu putih lalu kembali terduduk lemas.
Kegiatan itu berlangsung selama hampir 3 bulan lamanya. Obat yang kudapat dari Puskesmas dan susu untuk Ibu hamil tak jua mengurangi masa-masa sulit kehamilan. Walaupun begitu jauh didalam lubuk hati, ada kesan bahagia, bahwa tak lama lagi aku akan menjadi seorang Ibu, dan beberapa bulan kedepan akan hadir kehidupan baru dalam kehidupan kami.
Tibalah suatu hari, ketika aku sedang mandi pagi, aku terkejut dengan sebuah noda berwarna merah melekat di salah satu pakaianku. Awalnya aku heran dengan noda itu karena selama 3 bulan ini aku sama sekali tak mengeluarkan tanda-tanda haid, dan memang seharusnya begitu. Noda yang sedikit itu akhirnya aku acuhkan, dengan harapan bahwa tidak akan terjadi apa-apa dalam kehamilanku itu, toh banyak juga yang bilang bahwa ada juga orang hamil dengan tetap mengeluarkan darah haid. Seharian itu pikiranku semakin tak focus, dan aku merasakan tiba-tiba perutku terasa enteng, tak ada beban kandungan sama sekali, aku tetap berpikiran positif bahwa setelah melewati 3 bulan rasa pusing dan mual akan hilang dengan sendirinya.
Untuk memastikan keadaan, aku mengajak suami mendatangi dokter spesialis kandungan sepulangnya kami dari kantor. Ketika itu kami tak berpikiran sama sekali mengenai biaya yang harus dikeluarkan,
“Pokoknya ada Dokter Speasialis kandungan, masuki aja” begitu kataku kepada suami.
Selesai pemeriksaan, Dokter laki-laki yang kami datangi itu, ternyata juga sedang mendalami spesialis bayi tabung di Universitas terkenal di Surabaya, pikiran biaya muncul kembali dibenakku, tapi cepat-cepat kusingkirkan, walaupun akhirnya biaya yang kukeluarkan jauh dari keadaan yang kucemaskan.
Dari Dokter itu kami mengetahui, ternyata kandunganku tidak ada masalah. Tetapi ada sesuatu yang ganjil ketika Dokter mengatakan bahwa usia kandunganku masih 8 minggu karena dari hasil test USG tak ada detak jantung yang biasanya terlihat. Tapi aku bersikeras bahwa kehamilanku sudah lebih dari 3 bulan, karena selama masa itu aku tak haid sama sekali, selain itu dari mula merasakan pusing dan mual, dokter puskesmas yang pertama kali memeriksaku bilang bahwa kehamilanku positif.
Ujungnya Dokter itu memberiku obat penguat kandungan, dan untuk memastikan kembali, aku diminta datang 1 bulan lagi agar kandunganku jelas, kondisi maupun usia sang jabang bayi.
Hari itu, belum lagi 1 bulan aku memeriksakan kandungan, tepatnya 1 minggu lebih beberapa hari, kembali aku merasakan perutku terasa sedikit sakit, rasanya seperti diremas-remas. Biarpun tak sesuai janji, aku kembali menemui Dokter itu dengan ditemani Suami. Dari pemeriksaan itu ternyata kandunganku sudah melorot, dan semenjak pemeriksaan yang pertama itu, Dokter memastikan bahwa kandunganku adalah kandungan yang tak berkembang. Disamping menguatkan hatiku, Dokter itu juga berkata bahwa, meskipun kandunganku sudah tak bisa bertahan, beliau tidak mau melakukan kuret. Justru dokter itu memberiku resep untuk menjatuhkan kandungan, dan resep itu haris dibeli ketika kandungan sudah jatuh. Dan untuk meyakinkan pihak Apotik, aku diminta berkata kalau obat itu aku beli karena memang kandunganku gagal, bukan karena aborsi, dari situ ternyata aku tau bahwa obat itu adalah obat yang biasa dipakai oleh orang yang melakukan aborsi, sehingga dokter mewanti-wanti aku. Alasan lain dokter itu tak mau melakukan kuret,adalah biaya kuret yang mahal, sehingga kalau bisa menggunakan obat, mengapa harus kuret?
Lalu dokter muda itu dengan sabar mengatakan, kalau kandunganku sudah jatuh, beliau minta agar gumpalan darah yang paling besar tidak segera aku buang, tapi dibawa ketempatnya untuk dipastikan kembali sebab musabab bayi itu jatuh.
Sepulang dari dokter, malamnya perutku sakit sekali, rasa remasan kembali menghebat dan keringat dingin membasahi tubuhku. Rasa perutku itu seperti akan buang air besar dan melilit sekali. Lantunan qosidah sholawat yang mengalun dari computer, yang sengaja aku perdengarkan agar harapan dapat mengurangi sakitku memang terbukti, walau terasa sakit, tapi karena aku mengikuti alunan sholawat yang kadang menghentak, tapi kadang pula mengalun dengan nada mendayu sangat membantu mengingatkanku akan syafaat Rasulullah.
Dan kejadian malam itu, hingga kinipun masih segar dingatanku, sejak pukul 10 malam hingga jam 5 pagi aku harus bergelut dengan rasa sakit yang sangat. Dan selama itu aku hanya bisa tidur sambil bergerak kesana kemari untuk menahan sakit sambil selimut tumpuk 3 menutupi badanku, walaupun sebenarnya dinginnya udara masih menusuk ditubuhku. Dengan masih kesakitan, sekitar pukul 2 pagi, tiba-tiba mulutku berasa ingin muntah, dan setelah kumuntahkan ada darah disana, tapi sama sekali tak kupedulikan karena badanku sendiri tak kuasa untuk menahan berdiri. Melihat keadaan itu, Suami sempat mengajakku ke Rumah Sakit, tetapi karena aku tak kuat menahan sakit, aku tolak ajakan suami.
Tepatnya pukul setengah 5 pagi, perutku terasa akan buang air besar, dan aku kembali kekamar mandi. Disana tiba-tiba darah mengalir deras, seluruh lantai kamar mandi yang semula biru, selang 5 menit menjadi memerah.
Rasa remasan yang semalaman kuat berangsur-angsur mengendor, bersamaan munculnya gumpalan darah sebesar kepalan tangan. Dan setelah diperiksa dokter, memang bayi yang kukandung adalah bayi yang tak berkembang. Setelah melalui pemeriksaan, bayi itu kukubur di pemakaman umum.
Kini, setelah 3 tahun aku gagal mempunyai bayi, harapan untuk hamil lagi sangat aku nantikan, tapi semuanya kembali kepada Yang Menciptakan, walaupun semua langkah sudah kutempuh, tapi kalau kehendak Illahi belum mengabulkan, aku hanya terima dengan pasrah.
Semoga, suatu saat do’aku akan dikabulkan oleh Yang Kuasa, Amiin….
Kisah ini saya ikut sertakan dalam kontes blog dengan tema “Berbagi Kisah Sejati” yang di selenggarakan oleh Anazkia yang disponsori oleh http://denaihati.com/








Juni 5th, 2010 at 13:41
Pengalaman yang luar biasa. Mudah2an di suatu hari kelak, dianugerahi oleh Allah SWT cahaya hati
Amiin, Pak Ifan…
Itu juga harapan saya..
[Reply]
Juni 5th, 2010 at 13:48
aq jadi pingin nangis yun.. kisahku sama kek cerita ini… aq pernah hamil dulu tapi gugur… dan sekian tahun aq menanti lagi tuk masa indah itu, tapi rupaNya DIA masih hendak menguji kesabaranku…
Ini lah jawaban yang selama ini saya tunggu dari mba Sunflo… saya lihat hampir setiap hari mba posting blog, sehingga sempat timbul dibenak saya, kok critanya melulu tentang Mba dan Hubby aja…
Mungkin sama kayak aku, setiap hari aku dan suami hanya memikirkan diri kami sendiri tanpa beban anak, sehingga banyak yang mengira aku tak ingin hamil, suara sumbang pun sering aku dengar yang katanya aku pke obat segala macam agar tak hamil, padahal mereka ga tau apa yang saya pikirkan….
Makasih sharingnya mba…
[Reply]
Juni 5th, 2010 at 15:45
Subhanallah, tetaplah berdoa! Bila Allah telah berkehendak semua bisa terjadi…bersabarlah!
Cobalah bersama suami, minta maaf kepada orang tua dan mertua secara langsung serta minta didoakan segera hamil!
[Reply]
Juni 5th, 2010 at 16:37
sungguh terharu….
sabar ya mbak, mudah2an segera diberi pengganti yg keguguran itu oleh Allah, amiin….
[Reply]
Juni 5th, 2010 at 17:58
sabar ya mbak !!
tuhan yang mengatur segalanya ,,
hanya ini yg dapat re katakan ,,
saiia hanya anak ingusan yang belum terlalu bisa berkata kata !!
[Reply]
Juni 5th, 2010 at 21:21
Sepertinya kamu mengalami ‘Abortus iminen(ancaman abortus) yg berkembang menjadi abortus incipiens(abortus yg sedang berjalan) lalu menjadi abortus inkomplitus (abortus yg belum komplit)…kondisi ini tidak bisa dihindarkan. Sehingga dokter memutuskan melakukan tindakan “penghentian kehamilan” dengan cara non invasif…yaitu dg cara medikamentosa (minum obat peng-induksi persalinan),demi menyelamatkan nyawa ibu.
Abortus bisa disebakan faktor Ibu, bisa juga faktor Janin, bisa juga kedua2nya.
Dokter bisa mencari kemungkinan2 penyebab abortus tsb.
Kalau soal Infertilitas….(kesulitan hamil/hamil lagi) tentunya perlu dilakukan pemeriksaan yg lebih teliti, tidak hanya si istri tapi juga si suami. Ingat…andil suami dan Istri untuk terjadinya suatu kehamilan persentasenya adalah sama…50:50 .
ps: kalo mau diskusi soal ini bisa lewat email-ku ya sist…( srexano7 at gmail.com)
aku akan coba bantu sebatas memberikan informasi2 yg mungkin bisa membantu. tx u
[Reply]
Juni 6th, 2010 at 07:24
mba….maaf ya..
bukan ga berkunjung
kadang ada tulisan postingan tidak dapat dikirim..
mpe berapa kali..
ini yang saya takutkan..
mba..yang sabar ya..
saya turut sedih..
semoga mba dan suami dikaruniakan seorang anak..
jangan lupa usaha,doa,ikhlas dan ikhtiar…
[Reply]
Juni 6th, 2010 at 08:25
semoga menang ya..:)
[Reply]
Juni 6th, 2010 at 10:01
saya sungguh terharu …
Semoga Allah segera memberikan yang buah hati terbaik buat Mba Yuni … amien
[Reply]
Juni 6th, 2010 at 12:42
tanteku juga pernah mengalami kejadian seperti ini, syukurnya bayinya bisa dipertahankan dan sekarang telah berumur 8 bulan.
[Reply]
Juni 6th, 2010 at 15:18
wah..bener-bener mengharukan mba.
Minta tukeran link ya. Punya mba sudah q pasang di http://yogianggriawan.com/tukeran-link-gratis
Terima kasih.
[Reply]
Juni 6th, 2010 at 20:29
Mungkin ini hal terbaik yang Allah berikan mbak, karena Allah memberikan pa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Semoga Allah segera memberikan momongan untuk mbak.
[Reply]
Juni 6th, 2010 at 20:53
semoga alloh memberikan yang terbaik mbak
[Reply]
Juni 6th, 2010 at 21:38
semoga segera mendapatkan penggantinya ya yuni… salam, d.~
[Reply]
Juni 6th, 2010 at 23:32
Sabar ya…semoga tabah jalani cobaan ini, suatu saat pasti Tuhan akan memberikan baby lagi…
[Reply]
Juni 7th, 2010 at 07:51
semoga menang yaaa.a…
[Reply]
Juni 7th, 2010 at 10:20
Mbak, kayaknya kemarin saya dah ke sini,
kok gak ada komentar yah…??? Maaf…
Lho, linknya udah ada lho, cuma namanya aja lain, Saya letak nama, Yuniquin, abis Mbak gak kasih nama lengkap hehehe lihat peserta nomor 61, itu khan tulisan Mbak…
*apa saya yang salah?* bentar saya cek lagi…
[Reply]
Juni 7th, 2010 at 10:30
Tuh khan bener, naskah Mbak, nomor 61
coba deh, Mbak cek lagi…
Semoga Allah memberikan ganti yang terbaik nantinya. Insya Allah…
[Reply]
Juni 7th, 2010 at 11:11
salam kenal sebelumnya…wah aku jadi pingin nagis neh membaca cerita ini karena aku juga teringat adiku yang sama juga ngalamin keguguran sudah 2 th dia menungu kedatangan buah hatinya..yang sabara ya mba..Allah maha melihat dan maha mendengar,Allah maha pengasih lagi maha penyayang..
[Reply]
Juni 8th, 2010 at 10:22
Mba Yuniiiiii…
sediiiiiiih banget mbacanyaaaa…..hiks…
yang tabah ya mbaaaaa….
skenario Tuhan gak pernah salah kok mbaaaa….
asal tetep yakin dan percaya aja padaNya….
[Reply]
Juni 8th, 2010 at 11:26
ini kisah nyata ya kak?
ckckck
sabar ya kak
Allah pasti ngasih jalan yang terbaik buat kakak
[Reply]
Juni 8th, 2010 at 20:00
kisah yang mengharukannn… btw, moga menang ya kontesnya mba yun..
[Reply]
Juni 8th, 2010 at 20:59
Yun, saya ikut sedih baca cerita Yuni ini, sekaligus juga kagum dengan ketegaran Yuni buat menghadapi semuanya dengan ikhlas.
Tidak mudah tentu, tapi Yuni bisa melewatinya dengan baik.
Semoga di saat yang tepat nanti, Yuni akan diberi anugerah itu. Amin.
Sama dengan Erry, skenario Tuhan itu nggak pernah salah.
Hanya kita yang suka menafsirkannya dengan tidak benar…
[Reply]
Juni 9th, 2010 at 11:39
yun,,,sepertinya kita belum bertukar link deh…gimana kalo skr kita bertukar link..??
[Reply]
Juni 9th, 2010 at 16:28
smoga kow bs segera dikaruniai kehamilan lg ya sista
[Reply]
Juli 1st, 2010 at 22:11
tidak ada yg tahu apa yg dirncanakan Allah untuk umatNya….berusaha…berdo’a dan tawakkal….cuma itu yg bisa manusia lakukan…selebihnya…Wallahu’alam…..
dan Allah akan membuat indah pada saatnya….
be patient sista…ur strong woman….
Makasih supportnya Pak Satria…..
[Reply]
Desember 30th, 2010 at 12:14
sabar……
oia, klo butuh referensi atau paper tentang teknik elektro
DAPAT DI KLIK DISINI GAN…..terimakasih banyak…ditunggu kunjungannya
[Reply]
Januari 23rd, 2011 at 15:19
Sabar ya yun.. Semoga Tuhan segra mberi momongan lg
[Reply]
Mei 27th, 2011 at 09:31
Damn, awesome website. I actually came across this on Bing, and I am happy I did. I will definately be coming back here more often. Wish I could add to the posts here and bring a bit more to the table, but am just absorbing as much info as I can at the moment.
[Reply]
Juli 5th, 2011 at 10:59
pengalaman yag sama yg pernah sy rasakan.sy tahu benar gmana rasanya.hancur perasaan kebahagiaan saya dan suami.saya merasa dunia tidak adil waktu itu.banyak orang yang tidak menginginkan kehamilan tapi dengan mudah mereka hamil.sedangkan kami yg sudah sangat mengharapkan putra malah harus mengalami.sekarang sy pun sdg hamil.kata dokter ukuran dan usia janin kali ini jg tidak sesuai.tapi masih ada 2 minggu untuk melihat perkembangan janin.semoga 2 minggu lg janin sy berkembang dan sehat.amien
semoga mb juga segera mendapatkan putra/putri
[Reply]
Agustus 17th, 2011 at 22:51
Saya turut berduka mba…semoga cepat dapet panggati nya..
[Reply]