Memegang jabatan sebagai bagian service tidaklah semudah yang kita kira, apalagi bidang yang diterjuni adalah IT. Yah.. namanya juga barang elektronik, sebagus-bagusnya produk, secanggih-canggihnya fitur, seterkenalnya merk pasti ada rusaknya juga. Ibarat membeli timun sekilo, walaupun sudah hati-hati ambil yang bagus, sudah memilah-milah diantara bergunung-gunung pilihan, yang namanya apes ya tetep apes, bisa saja satu diantara timun yang kita pilih itu rasanya pahit.
Sama juga kasusnya kalau kita beli barang elektronik, sebelum membeli pastinya kita memilih yang bagus diantara yang terbagus. Karena memang barang baru, tak sedikit dari kita memilih tampilan luarnya yang gress, nggak ada cacat, bahkan sampai dos nya aja dipilih yang ngga ada sobek atau kotor sedikitpun! Padahal kan Cuma dos memang ada hubungannya dengan unitnya, nggak kan? Tapi melihat tampilan dos yang kotor, ada robek dalam pikiran kita pasti timbul, ah ini bekas kena banting, atau ah ini barang sisa, dan pikiran jelek lainnya sehingga kita menolak kalau dikasih barang yang itu, maunya yang bagus, titik!
Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah laptop dari customer, sebut saja Mas A. Dia mengeluhkan laptopnya mati. Setelah saya cek memang kondisinya mati pet! Powernya pun ngga ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Untuk memastikan garansi, saya cek tanggal pembelian yang tertera di segel. Dari segel terlihat bahwa tanggal pembeliannya 8 November 2010. “Wah garansi sudah habis dong, sekarang kan sudah Juni 2011” pikirku.
Lalu ku utarakan saja kepada Mas A yang masih duduk didepanku bahwa laptopnya sudah habis garansi, karena memang dia nggak membeli laptop itu ditempatku.
Tapi dia bersikeras bahwa laptop itu masih baru dan belum lama membelinya. Saya pikir masak penjualnya salah mencontreng tahun, atau bisa saja customerku itu membeli barang stock lama. Supaya ngga ribet dan supaya ‘menggaransikan’nya ngga ruwet maka saya mintalah nota pembelian kepada Mas A. Dan lagi-lagi Mas A bilang bahwa notanya sudah hilang. Yah.. jalan terakhir adalah saya bilang saja, “OK lah saya bantu bawa ke service center dulu..”
Sekedar informasi aja, ada beberapa service center merk laptop tertentu yang meminta kartu garansi dan nota pembelian kepada customer yang akan menggaransikan laptopnya yang rusak, ya memang agak sedikit ribet. Tapi ada juga service center yang hanya melihat tanggal segel atau melalui scan barcode, tanpa customer membawa kartu garansi dan nota pembelian.
Sebelumnya, tepatnya seminggu yang lalu, saya pernah membantu Mas A menggaransikan laptop yang merknya sama dengan laptop yang rusak, yang sekarang kupegang. Ketika itu saat kumintai nota pembelian, Mas A bilang bahwa notanya hilang. Ya sudah sesuai kesepakatan antara aku dan pihak service center, bahwa aku harus membuat nota pembelian yang tanggalnya disesuaikan dengan segel, berikut nama, alamat dan no telp pemilik laptop. Selanjutnya proses penggaransian memang mulus, tak ada kendala apa-apa karena tanggal segel belum ada satu tahun dan masih bisa di terima service center.
Untuk kasus yang ini agak rumit, sampai sekarang, sudah seminggu laptop itu ngendon di kantor. Masalahnya adalah saya tidak tau kapan laptop itu dibeli. Seandainya saja ada tanggal pembeliannya, mungkin aku bisa bantu membuatkan nota ‘hau-hau’ supaya lolos ke service center.
Kemarin saya coba SMS kepada Mas A begini: Mas A, laptop yang mau diservice kemarin itu aku bisa minta tolong tanggal pembelian pastinya kapan, sampean kemarin kan bilang masih garansi tapi service centernya ngikut tanggal segel. Nah klo ngikut tanggal segel, berarti garansi sudah habis, bisa di fax atau di email kan nota pembeliannya untuk ditunjukkan ke CS
Dan jawaban Mas A adalah: Itu dulu belinya duluan dengan laptop yang seminggu lalu diservice itu lho Mbak. Notanya ga ada Mbak. Sampean buatkan nota lagi ae Mbak!
Kubalas lagi: Lho iya memang mau tak buatin nota sendiri seperti kemarin, lah kan aku ga tau tanggal belinya kapan. Kalau tak bikin sesuai segel ya sama aja garansi sudah ga berlaku, tapi kalau tak bikin nota dengan tanggal ngawur nanti pasti dimintai nota pembelian dari distributor, kan malah ruwet jadinya, sedangkan beli laptopnya aja ngga ditempatku.
Mas A balas: Belinya duluan dengan laptop yang seminggu lalu diservice!
Mampuslah aku!! Sepertinya penjelasanku tak ada titik temu. Lah mosok aku harus bilang ke Service Center bahwa belinya lebih dulu dengan barang yang di service seminggu lalu disini. Emang yang service di service center itu cuman kantorku aja?
Dari pada ribet kubiarkan aja laptopnya ditumpuk disini, wong aku cuma membantu…
Nah buat teman-teman, ini hanya sekedar pelajaran. Kalau membeli barang elektronik alangkah baiknya kalau nota dan kartu garansi disimpan baik-baik, paling tidak setahun lah. Yah kalaupun kita takut ngga ketemu karena saking rapinya menyimpan, biarkan saja nota, kartu garansi, driver dan teman-temannya tersimpan baik di dalam dosnya. Jadi sewaktu-waktu bila diperlukan tinggal mencari dosnya. Betul nggak? “Betuulllll……” *kompakan jawab*







Juni 25th, 2011 at 13:38
betuull sekali,,,
saya lebih suka naruh kartu garansi & nota di dusnya….
[Reply]
Juni 25th, 2011 at 15:26
Sebenernya mau dibantu apa enggak. Kalau tidak ada bukti maka prosedur tetap akan berlaku. Bukti-bukti yang tertulis yang ada pada fisik leptop akan dipakai sebagai dasar keputusan masa garansi.
[Reply]
Juni 25th, 2011 at 16:20
Yun, saya paling nggak telaten kalo disuruh nyimpen-nyimpen nota pembelian…ternyata gini to hasilnya, jadi susah sendiri.
Yo wis lah, mulai sekarang saya mau nurutin nasihat Yuni, nota apapun yang berhubungan dengan pembelian plus garansi, harus disimpen baik-baik, setuju?
Setujuuuuuu….
[Reply]
Juni 25th, 2011 at 16:21
Nota ‘hau-hau’ iku panganan opo to…?
[Reply]
Juni 25th, 2011 at 21:50
betul mbak mending disimpen di dus, atau kalo tidak ya tas khusus surat - surat berharga.
[Reply]
Juni 26th, 2011 at 06:10
bener, nota pembelian barang elektronik mending disimpen, minimal sampe garansi abis.
biasanya sih kalo saya tak simpen sekalian kerdusnya.
lah yaa sebenernya mbak yuni sah sah aja kalo mau nolak, toh bukan salah mbak juga to?.. repot juga yah.
[Reply]
Juni 26th, 2011 at 07:55
betul banget.. nota2 harus disimpen dulu lah beberapa saat. apalagi kalo disini barang2 boleh dibalikin jadi nota2 selalu kita simpen just in case mau balikin…
[Reply]
Juni 27th, 2011 at 11:05
iya mbak…aku juga nyimpen nota2 pembelian di dalam dus….jadi kalo ada apa2 ngga repot nyarinya…
[Reply]
Juni 27th, 2011 at 15:09
Aku suka nyimpen nota, tapi suka lupa juga nyimpennya dimana. Sama aja ya …
[Reply]
Juni 28th, 2011 at 01:19
aku koleksi nota2 loh:)
[Reply]
Juni 28th, 2011 at 01:39
nota dinas or nota belanja?
ada arsip tersendiri utk nota dinas (dikantor) …hehehe
[Reply]
Juni 28th, 2011 at 08:01
Wah, begitu ya mbak pentingnya..
Untunglah aku selama ini selalu menyimpan nota-nota tersebut..
oke deh, terima kasih buat sarannya..
[Reply]
Juni 28th, 2011 at 22:08
mba Yuniiiiii…
yang begituan mah tugasnya abah…
Abah adalah mahluk aneh yang hobi banget ngumpulin bon, nota, tagihan listrik, sampe brosur pun dia kumpulin…hihihi…
Ternyata ada fungsinya juga ya…
Aku yang hobinya suka buang buangin mba…
bikin rumah berantakan…hihihi…*istri durhaka*
[Reply]
Juni 29th, 2011 at 18:20
Wah… lappy saya udah lebih 2 tahun, berarti kerdusnya udah bisa dibuang ya, Mbak…
[Reply]
Juni 30th, 2011 at 12:33
Salam Takzim
Maap sahabat hanya mampir untuk memberikan penghargaan kepada sahabat, semoga berkenan untuk menjemputnya
Salam Takzim Batavusqu
[Reply]
Juni 30th, 2011 at 15:47
Ups…kesindir bgt nih mba Yun, aku termasuk yg ga rapih menyimpan surat2 kek begini huhuhuhu
[Reply]
Juli 13th, 2011 at 14:08
wow,..info yg bagus. thank’s ya..salam kenal
[Reply]